2016 Bisnis Properti di Kalimantan Menuju Titik Balik

Tahun 2016 membangkitkan kembali gairah bisnis yang sempat melemah pada tahun 2015 lalu. Sektor properti pun optimis akan kembali menguatnya gairah bisnis properti, seiiring percepatan ekonomi dan serangkaian kebijakan pemerintah di tahun ini.

Melemahnya pasar properti di 2015 memang telah diperkirakan sebelumnya, menurut pengamat properti Ali Tranghanda, hal tersebut merupakan siklus 5 tahunan dari bisnis properti. Di mana pada tahun-tahun sebelumnya, bisnis properti boleh dikatakan berada dalam “zaman keemasan”.

Pertumbuhan pasar perumahan di periode 2010 sampai 2012 sungguh luar biasa dengan kenaikan nilai KPR mencapai 120 persen  lebih dalam 2 tahun, termasuk pula pembelian perumahan secara cash dan bertahap.

Berangkat dari hal tersebut, Ali Tranghanda meyakini, pada tahun 2016 ini, bisnis properti di Indonesia menuju titik balik. Ali opitimis prospek pasar properti Indonesia kembali menemukan titik terang baik dibanding tahun 2015. Salah satu pendorongnya adalah sinyal positif dari pemerintahan Jokowi – JK yang berupaya mendorong realisasi proyek-proyek infrastruktur secara signifikan. Upaya pemerintah tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan sektor riil terhitung awal 2016,” ujar Ali Tranghanda.

"Apabila percepatan ekonomi dapat direalisasikan oleh pemerintah di 2016 ini, maka saya pribadi merasa sangat optimis bahwa sektor properti dapat kembali menguat pada 2019-2020. Peningkatan tidak akan terjadi secara cepat, melainkan bertahap di angka kisaran 10 sampai 15 persen,” ujar Ali Tranghanda.

Di lain kesempatan, itu Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Eddy Hussy menyatakan optimismenya ditinjau dari beberapa indikator yang akan menopang pertumbuhan properti pada tahun 2016, di antaranya: relaksasi loan to value (LTV), aturan kepemilikan asing, hingga rencana pemangkasan perizinan." REI juga melihat adanya indikasi kepercayaan pasar yang makin meningkat di tahun 2016. Hal tersebut akan mendorong pertumbuhan bisnis properti ke arah yang lebih baik," ujarnya.

Baik Ali dan Eddy, memperkirakan, bisnis properti akan kembali bergairah pada semester kedua tahun 2016. Peningkatan tersebut didasari oleh keaadaan ekonomi global dan sejumlah kebijakan pemerintah yang mendukung bergairahnya bisnis properti di tanah air.

Senada dengan Ali dan Eddy, Sekretaris Korporasi Ciputra Group, Tulus Santoso, juga mengungkapkan keyakinannya bahwa pertumbuhan bisnis properti di 2016 akan lebih baik dibanding tahun 2015, pertumbuhannya akan meningkat minimal 10 persen. Sedangkan untuk Ciputra Group, Tulus memprediksi akan mencatat pertumbuhan di atas. Di tahun 2016 ini, Ciputra Group akan lebih mematangkan rencana bisnis di semua proyeknya.

"Kami memprediksi Ciputra Group akan tumbuh 15 – 20 persen. Di tahun 2016 proyek-proyek kami masih akan mengandalkan penjualan properti untuk kelas menengah ke atas, dan penjualan properti untuk menengah dan kecil. Disamping itu kami juga akan mengelola mall dan hotel untuk tetap menjaga pertumbuhan pendapatan berulang atau recurring income,” tandas Tulus.

Ciputra optimis di Kalimatan

Berbicara mengenai peluang investasi  properti di tahun 2016, khususnya di Pulau Kalimantan, General Manager Ciputra Group Piter Simpony mengatakan, optimis pasar properti di Kalimatan, terutama Banjarmasin, Samarinda, dan Balikpapan juga akan tumbuh sekitar 10 persen menyusul mulai membaiknya perekonomian wilayah Kalimatan. Baik konsumen maupun pengembang, keduanya memiliki ekspektasi tinggi terhadap pertumbuhan bisnis properti di 2016. Di tahun ini peluang kenaikan harga properti di semua sub sektor akan terbuka lebar.

Optimisme Piter ini dilatarbelakangi, indikator  menggeliatnya ekspor komoditas Kalimatan secara umum, mulai akhir tahun 2015, seperti dirilis oleh Bank Indonesia. Menggeliatnya berbagai komoditas ekspor tersebut, mendorong tumbuhnya perekonomian Kalimantan Selatan 3,86 persen meningkat dari triwulan sebelumnya 3,16 persen.

Peningkatan pertumbuhan ekonomi yang lebih signifikan didorong oleh membaiknya sektor pertambangan, terutama batu bara. Kenaikan harga batu bara mendorong kinerja perekonomian, khususnya Kalimantan Selatan dan Kalimatan Timur.

“memanfaatkan momentum ini, proyek-proyek Cipurta Group di Kalimantan akan menarik pasar sebesar-besarnya, dengan melakukan berbagai inovasi dan terobosan. Konsumen cerdas akan menjadikan peluang tersebut menjadi waktu yang tepat membeli properti,” kata Piter.

Dalam masa “titik balik” (awal tahun) ini, kata Piter, sebagian besar pengembang akan memberikan penawaran khusus bagi konsumen, baik dari sisi harga, cara pembayaran, dan berbagai promosi. Saat pasar mulai bergairah, harga akan cepat naik dan akan memberikan nilai tambah atas aset properti yang dibelinya di awal masa “titik balik”.

“Konsumen akan memperoleh banyak keuntungan jika mereka membeli properti di saat harga masih merangkak naik, seperti sekarang ini. Namun konsumen perlu lebih memperhatikan secara seksama dan bijak dari sisi prospek investasi dan bagaimana kredibilitas pengembangnya,” tandas Piter.

Seperti diketahui, Ciputra Group telah berhasil mengembangan beberapa proyek di kota-kota utama di Pulau Kalimatan. Di Banjarmasin terdapat 4 proyek yakni CitraGarden Banjarmasin, CitraLand Banjarmasin, BizPark Banjarmasin, Citra Mitra City (Banjarbaru). Di Samarinda ada 2 proyek perumahan yang sangat diminati masyarakat, yaitu: CitraLand Samarinda dam CitraGrand Senyiur City. Dan di Balikpapan ada Citra Bukti Indah dan Citra City Balikpapan. ***